| Orang Tua dan Pilihan Pendidikan Bagi Anak |
|
|
|
| Artikel | |
| Written by sang profesor | |
| Tuesday, 09 December 2008 02:18 | |
|
Orang Tua dan Pilihan Pendidikan Bagi Anak Oleh : USEP SAEFUROHMAN, S.Pd. (Class Master SDIT Bina Muda) Suara dan pilihan masyarakat akhir-akhir ini bak gula yang dirindukan semut, menjadi rebutan bagi pihak-pihak yang mempunyai kepentingan tertentu. Tidak hanya diperebutkan oleh capres dan cawapres dengan menjual visi, misi, dan platform mereka, tapi juga oleh sekolah-sekolah yang menawarkan visi, misi, keistimewaan, dan segala kelebihan yang dikemas sebagus mungkin agar masyarakat jatuh hati dan menentukan pilihan sesuai dengan keinginan mereka. Bedanya, menjelang pilpres, masyarakat akan menitipkan suara sebagai amanat kesejahteraan bangsa, sedangkan menjelang penerimaan siswa baru, masyarakat akan menitipkan anak-anaknya ke sekolah sebagai amanat masa depan anak bangsa. Â Salah satu faktor penentu masa depan anak bangsa adalah keluarga. Lembaga pendidikan pertama saat manusia terlahir ke dunia adalah keluarga. Sebuah keluarga memiliki investasi afeksi yang tidak dapat tergantikan oleh peranan lembaga lain di luar keluarga, seperti sekolah, lembaga agama dan masyarakat. Meskipun memiliki posisi sangat strategis sebagai tempat investasi afeksi pertama sang anak dalam masa-masa awal pertumbuhannya, posisi istimewa orang tua ini juga bisa menjadi titik lemah bagi pembentukan karakter anak. Sebab, tidak ada korelasi antara kemampuan untuk melahirkan anak dengan kemampuan diri orang tua untuk menjadi pendidik. Untuk menjadi orang tua hanya prasyarat biologis yang diperlukan, sedangkan untuk menjadi pendidik dibutuhkan pengalaman, keahlian, dan pemahaman tentang pedagogi. Jadi, visi pendidikan dan keyakinan filosofis, dan pengalaman pribadi orang tua tentang pendidikan anak inilah yang menentukan berhasil tidaknya orang tua menjadi pendidik bagi anak-anaknya. Mengingat tidak adanya korelasi antara kapasitas biologis untuk menjadi orang tua dan kapasitas mereka untuk menjadi pendidik, tidak jarang bahwa anak justru memperoleh pendidikan yang kurang baik di dalam keluarga sehingga proses penanaman nilai tidak terjadi di dalam keluarga. Selain itu, ketika anak semakin menginjak dewasa dan butuh untuk mengembangkan pengetahuannya, orang tua memiliki keterbatasan dalam hal kompetensi, metode dan sarana dalam membantu pertumbuhan anaknya sendiri. Untuk inillah hadir lembaga-lembaga pendidikan yang membantu anak itu berkembang dengan lebih baik sehingga seluruh potensi yang ada dalam dirinya dapat tumbuh. Pemahaman orang tua tentang jenis pendidikan bagi anaknya sangatlah bervariasi mengingat jumlah sekolah yang semakin banyak dengan segala macam karakter dan kekhasan yang menjadi kelebihannya. Tapi paling tidak ada tiga pendapat tentang cara-cara orang tua memberikan pendidikan bagi anak mereka jika dilihat dari cara mereka menentukan pilihan jenis sekolah. Pertama, ada orang tua yang menginginkan anaknya dididik dalam konteks multicultural. Mengingat bahwa masyarakat menjadi semakin plural dalam segala hal baik dari sisi pandangan hidup, agama, sosial, budaya, ideologi politik, dan keterampilan. Orang tua merasa lebih aman dan nyaman mempercayakan pendidikan anak mereka dalam sekolah yang dikelola oleh Negara. Lewat sekolah umum ini anak akan mengalami suasana pembelajaran yang multicultural. Anak berjumpa dengan pola perilaku, kebiasaan, dan carta pikir yang relative berbeda dengan yang mereka alami di rumah. oleh karena itu, orang tua memilih sekolah umum yang dikelola oleh Negara. Metode pendidikan ini biasanya kilasikal dan umum. Kedua, ada orang tua yang menginginkan anaknya mengalami sebuah proses pendidikan yang berkesinambungan dengan pendidikan yang telah terjadi di rumah dengan mempercayakan pada lembaga pendidikan agama tertentu, yang memberikan pendidikan khusus, yang para muridnya hampir dikatakan memiliki habitus, kebiasaan, cara-cara dan pola berpikir sama dengan ajaran iman yang dimiliki oleh anak di dalam keluarga. Model pendidikan yang dikelola oleh lembaga agama tertentu membuat orang tua merasa aman dan nyaman, terutama tentang pertumbuhan pendidikan iman anak-anak mereka. Biasanya model pendidikan dari lembaga pendidikan ini adalah tradisional-konservatif. Ketiga, ada orang tua yang tidak puas dengan pelayanan pendidikan yang diberikan oleh Negara dalam bentuk sekolah umum maupun pelayanan pendidikan oleh lembaga keagamaan dalam bentuk sekolah swasta keagamaan, sebab kedua lembaga ini memiliki pendekatan tradisional-konservatif yang kurang relevan dengan tuntutan zaman. Anak buth kecakapan dan keterampilan khusus yang tidak ditemukan di dalam kedua lembaga pendidikan tersebut. Oleh karena itu, ada orang tua yang menyerahkan anak-anak mereka untuk dididik dalam sebuah lembaga alternatif yang memberikan pendekatan kreatif, progresif dalam karya pendidikan mereka. Apapun pilihannya, orang tua tetap memiliki kepentingan bagi kemajuan pendidikan masa depan anak-anak mereka. Dalam hal ini, tanggung jawab orang tua tidak hilang, melainkan diperluas dengan melibatkan lembaga lain karena keterbatasan yang mereka miliki. Dengan begitu, keluarga dan sekolah sama-sama bertanggung jawab terhadap tumbuh kembang mereka sebagai genarasi penerus bangsa. |
|
| Last Updated ( Monday, 26 April 2010 09:54 ) | |


