| Mengembangkan Intelektualitas Guru |
|
|
|
| Artikel | |
| Written by Administrator | |
| Sunday, 23 August 2009 00:00 | |
|
Mengembangkan Intelektualitas Guru Oleh : USEP SAEFUROHMAN, S.Pd. (Class Master SDIT Bina Muda)             Disadari atau tidak, realitas dunia pendidikan telah memperlihatkan kepada kita bahwa ternyata masih banyak di antara guru yang kurang mampu mengembangkan tugas dan tanggung jawab intelektualnya sebagai tuntutan kreativitas. Dalam proses pembelajaran misalnya, tidak sedikit guru hanya menjelaskan apa yang sudah tertulis dalam buku, ia tidak berani menjelaskan dengan cara lain, karena menurutnya, tugas guru memang menyampaikan persis apa yang diuraikan di buku pelajaran. Baginya, buku paket adalah satu-satunya senjata ampuh yang memberi petunjuk apa yang harus diajarkan di dalam kelas. Tanpanya, dia akan merasa bingung karena tidak tahu apa yang akan disampaikan di kelas, dan merasa pusing tujuh keliling karena buku paket adalah satu-satunya sumber dan bahan ajar yang mutlak diperlukan.            Jika tidak ada pembaruan dan pengembangan terhadap kondisi demikian, tugas sebagai seorang guru tidak ada bedanya seperti ‘tukang’ teknis belaka. Seorang tukang biasanya tidak banyak mengembangkan, tetapi hanya memindahkan dan memasang, tanpa boleh berpikir lain dan berpikir maju. Bila tuntutannya bentuk persegi, maka tukang hanya membuat persegi, semuanya harus persis tanpa boleh ada penyimpangan, termasuk penyimpangan yang lebih baik. Akibatnya, guru tidak akan dapat membantu siswa berubah atau berkembang secara optimal karena miskin ilmu, lemah karya dan kerdil akan kreativitas. Kenyataan ini diperkuat dengan beberapa praktek di masa lampau, di mana bila ada lokakarya guru, selalu yang dibahas adalah bagaimana mengajarkan bahan, bagaimana memberikan bahan, bagaimana mentrasferkan bahan, dan jarang mengembangkan sisi keilmuan itu sendiri. Karena kuranya kreativitas yang dimiliki, muncullah guru pengekor, penjiplak, tidak kritis, tidak terbuka pada pemikiran baru, tidak berani berinisiatif untuk mencari dan menemukan hal-hal baru dan terlalu takut untuk berpikir dan bertindak ‘beda’ dengan kebanyakan orang.            Giroux, secara kritis dan keras menentang gagasan, anggapan, dan praktek di atas. Bagi Giroux, guru seharusnya dipandang dan diusahakan mampu bertindak sebagai seorang intelektual transformatif. Seorang intelektual yang dapat ikut merubah suasana dan keadaan, yang mampu menjadi agen perubahan masyarakat lewat anak didik yang dibantu secara kritis. Sebagai tanggung jawab intelektualnya, ia harus terus mencari dan tidak puas dengan apa yang diketahui dan dipunyainya. Ia harus terbuka terhadap semua perkembangan baik dalam soal pengetahuan, pembelajaran, mapupun kehidupan.            Sebagai seorang intelektual, guru harus mampu mengembangkan sikap-sikap yang dikembangkan layaknya seorang intelektual, antara lain : Pertama, terus belajar tanpa henti. Dengan terus belajar, wawasan dan pengetahuan seorang guru akan semakin berkembang menyesuaikan perkembangan dan tuntutan zaman. Seorang intelektual yang berhenti belajar, jelas ilmunya juga akan berhenti dan zaman akan meninggalkannya. Belajar tidak selalu diidentikan dengan usaha pencapaian title atau gelar akademik, tapi lebih dari itu belajar merupakan upaya seorang intelektual untuk mengembangkan dirinya lewat buku, Koran, majalah, internet, diskusi, oraganisasi dan pembelajaran kehidupan lainnya.            Kedua, berpikir rasional, kritis, dan bebas. Sebagai seorang intelektua, guru harus mampu berpikira rasional, dia dapat mengembangkan pemikiran yang berdasarkan alasan, argumentasi dan logika yang benar, bukan berdasarkan emosi asal menang. Dia akan menganalisa persoalan berdasarkan pada fakta dan kejadian yang ada, bukan dengan perasaan. Ia selalu berpikir kritis ketika dihadapkan dengan sesuatu hal, tidak hanya asal menerima saja, tetapi selalu bertanya apakah hal itu memang sudah benar demikian, atau ada sesuatu yang tidak benar, atau masih dapat dikembangkan. Ia bukan penurut kurikulum saja, tetapi kritis terhadap kurikulum dan kreatif untuk memperbaruinya. Ia bebas untuk berpikir dan mengembangkan pikirannya, ia dapat saja dikekang dan diintimidasi secara fisik, tapi ia tetap dapat bebas mengembangkan pikirannya. Tentunya kebebasan berpikir yang siap ia pertanggung jawabkan. Untuk itu, seorang guru harus punya keberanian untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya. Ia mesti berani menorehkan kebebasan berpikiranya lewat lisan maupun tulisan.            Ketiga, berani bertindak dengan melanggar aturan dan menghancurkan pola lama.  Guru sebagai intelektual harus punya keberanian untuk bertindak sendiri, tidak harus terpaku pada aturan main. Ia bukan ‘tukang’ yang asal menjalankan perintah atau aturan, tatpi seorang yang melihat situasinya dan bertindak sesuai dengan situasi dan kondisi kekinian yang dibutuhkan. Ia berani mempertanggung jawankan dengan segala resiokonya, ia bukan tipe guru yang selalu mencari aman, ia bukan pula sebagai pengekor yang selalu ikut-ikutan kemana kebanyakan orang bersikap dan bertindak, tapi ia punya keberanian ambil keputusan sendiri.            Dengan demikian, seorang guru yang mampu mengembangkan intelektualitasnya, ia akan siap mengembangkan anak didiknya menjadi generasi-generasi perubah yang sipa tampil baik di keluarga, sekolah dan masyarakat. |
|
| Last Updated ( Sunday, 23 August 2009 15:05 ) | |


