| MENJADIKAN HIDUP LEBIH HIDUP |
|
|
|
| Artikel | |
| Written by Administrator | |
| Tuesday, 09 December 2008 02:18 | |
|
Berubah, Menjadikan Hidup Lebih Hidup Oleh : Usep Saefurohman, S.Pd. (Master Class SDIT Bina Muda)             Perubahan adalah sesuatu yang pasti dalam hidup ini. Seorang muslim yang arif harus mampu melihat dan mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi yang merupakan fakta hidup yang harus dihadapi. Di balik fakta tersebut kita harus berusaha melihat peluang yang tersembunyi. Perubahan berarti kita harus keluar dari zona nyaman (comfort zone) kita. Perubahan merupakan proses yang membuka kesempatan kepada kita semua untuk berkembang maju ke depan. Belajar Berubah dari Kupu-Kupu       Apa yang kita rasakan dan kita pikirkan, seandainya kita melihat seekor ulat dan seekor kupu-kupu?       Ulat dan kupu-kupu adalah dua binatang yang mewakili dua hal yang berbeda dan sangat kontradiktif. Ulat adalah seekor binatang yang oleh sebagian besar orang dianggap menjijikan, bahkan juga banyak orang yang tidak hanya jijik akan tetapi juga takut. Sehingga ketika melihat seekor ulat, tidak jarang untuk segera menghindar, mengusir, bahkan ada yang mau membunuhnya. Ulat juga merupakan binatang yang mempunyai pergerakan atau mobilitas yang sangat lambat karena termasuk binatang yang pergerakannya dengan cara melata. Ulat juga dianggap sebagai hama tanaman karena banyak menggerogoti daun dan juga binatang yang menyebarkan sebuah penyakit.       Sebaliknya, ketika kita berbicara tentang seekor kupu-kupu maka yang terpikir dan terbayang di dalam benak kita adalah seekor binatang yang melambangkan sebuah keindahan. Sehingga hampir semua orang menyukai bintang ini. Kupu-kupu juga merupakan binatang yang mempunyai pergerakan yang cukup cepat dan lincah hinggap dari satu bunga ke bunga yang lain. Ia juga merupakan binatang yang menjalankan fungsi untuk menyebarkan kehidupan bagi makhluk lainnya. Ketika ia mengisap madu atau sari bunga dari sebuah tanaman bunga, secara tidak langsung juga ikut membantu proses penyerbukan pada bunga tersebut dan juga membawa benih-benih tumbuhan yang menempel pada tubuhnya dan kemudian menyebarkannya sehingga lahan-lahan yang tadinya kosong dan gersang berubah menjadi lahan yang dipenuhi dengan tumbuhan yang beraneka ragam.       Akan tetapi perlu diketahui bahwa kedua binatang tersebut sebenarnya adalah satu. Seekor kupu-kupu yang banyak disukai orang sebenarnya berasal dari seekor ulat yang menjijikan, menakutkan dan banyak dijauhi orang. Tetapi, setelah seekor ulat mentransformasikan dirinya menjadi seekor kupu-kupu maka binatang tersebut berubah dirinya, dari yang tadinya ditakuti, dihindari menjadi dicari, dikagumi, dipuji keindahannya oleh mereka yang dahulu merasa jijik kepadanya.       Proses transformasi yang dilakukan oleh kupu-kupu bukanlah suatu proses yang mudah seperti mudahnya membalikan telapak tangan. Proses perubahan hingga menjadi kupu-kupu merupakan proses yang sangat berat, lelah, menyiksa, dan tarhannya hidup dan mati, karena tidak semua ulat mampu merubah dirinya menjadi kupu-kupu yang indah. Buktinya kita sering melihat kepompong yang merupakan proses tersebut layu dan mati karena ulat yang berada di dalam kepompong tersebut tidak dapat keluar.        Berubah Dimulai dari Diri Sendiri       “Ashlih nafsaka, yashluh laka An-naasu†– (Perbaikilah dirimu sendiri terlebih dahulu, niscaya orang lain akan mengikuti apa yang kamu lakukan itu). Ungkapan ini mengingatkan kita bahwa sering kali kita lupa bahwa cara yang termudah, termurah, dan efektif dalam menghadapi perubahan adalah mulai dari diri kita sendiri. Kita ingin orang lain berubah, namun perubahan itu akan lebih mudah terjadi jika kita mengubah hidup kita terlebih dahulu. Allah SWT dalam Al-Quran telah menekankan :       “.......Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia (Q S Ar-Ra’d : 11)       Ada sebuah cerita, ada seorang raja yang sangat kaya raya yang hidup didampingi oleh menteri-menterinya. Pada suatu hari, sang raja berkenan berjalan mengelilingi negeri yang dicintainya, dan melewati daerah-daerah yang jalannya penuh dengan kerikil. Dalam perjalanan itu, sang raja merasakan telapak kakinya sakit dan perih karena menginjak kerikil-kerikil tajam.       Setelah pulang ke istana, sang raja memerintahkan kepada menterinya agar mengguliti setiap sapi di kerajaan untuk dijadikan alas yang menutupi seluruh jalan di negeri itu agar kakinya tidak lagi sakit jika berkeliling. Sang menteri berpikir sejenak, dan mengatakan kepada raja, “Baginda, biarpun kita mengguliti seluruh sapi di negeri ini, niscaya tidak akan menutupi seluruh jalan yang ada di negeri ini. Bagaimana jika kaki baginda saja yang ditutupi agar selalu terlindungi dari tajamnya batu-batu kerikil?â€Â.       Kita sering menuntut orang lain berubah untuk mengikuti apa yang kita inginkan, tapi akan sangat sulit jika kita sendiri tidak merubah diri. Dengan demikian, solusi agar orang lain berubah, kita harus berubah terlebih dahulu. “Ibda binafsikaâ€Â....!!! (mulai dari diri sendiri...!!) Musuh-Musuh Perubahan       Terkadang, kita sebagai muslim dalam menapaki jalan yang panjang menuju perubahan yang kita inginkan, kita mungkin terlalu fokus untuk terus menerus meningkatkan semangat dan menanamkan motivasi tinggi pada diri kita. Namun sering kali kita lupa untuk mencermati dan mengenali musuh-musuh yang justeru menjadi penghambat paling besar bagi kita. Kita kadang tidak memiliki kesadaran terhadap musuh-musuh besar yang justeru datangnya dari diri kita sendiri. Ada banyak musuh-musuh internal yang ada di dalam diri kita, antara lain kebiasaan-kebiasaan buruk (bad habits), sikap menunda-nunda (procrastination), dan pergaulan dengan orang-orang negatif.  Kebiasaan-Kebiasaan Buruk (Bad Habits)       Kebiasaan adalah segala hal yang kita lakukan secara otomatis atau tanpa sadar. Contoh yang paling mudah adalah jika kita mengemudikan kendaraan setiap pagi melalui rute yang sama. Dalam hal ini, otak kita tidaklah bekerja dengan keras, bahkan kita dapat melamun dan memikirkan hal yang lain dan tetap tiba di tempat kerja tepat waktu. Lain halnya jika kita mencoba melalui rute yang sama sekali baru dan belum kita lewati sebelumnya, otak kita akan bekerja keras agar kita tidak tersesat dan dapat tiba dengan tepat waktu.       Kita dilahirkan ke dunia ini tidak langsung memiliki suatu kebiasaan. Kebiasaan-kebiasaan tersebut masuk ke dalam hidup kita sedikit demi sedikit baik secara sadar maupun tidak dengan suatu proses yang panjang dan berulang. Awal mulanya terletak pada hal-hal yang kita yakini memiliki pengaruh pada diri kita, baik positif maupun negatif. Kemudian kita melakukan hal tersebut, dan kita pun merasa nyaman dengannya. Beberapa waktu kemudian, kita melakukan hal serupa dan terus menerus berulang hingga akhirnya menjadi suatu yang biasa dalam hidup kita. Bahkan jika diminta untuk meninggalkan kebiasaan tersebut, akan muncul resistensi dari dalam diri kita yang begitu kuat. Oleh karena itu, kitalah yang paling berperan dalam proses membenahinya agar sesuai dengan jalur yang kita pilih menuju gerbang perubahan yang kita inginkan.          Saya tertarik dengan pernyataan Darmadi Darmawangsa yang patut kita renungkan, mengapa begitu sulit mengubah suatu kebiasaan buruk walaupun secara logika kita sangat mengetahui bahwa kebiasaan itu berdampak buruk bagi diri kita? Jawabannya karena kebiasaan buruk yang mereka lakukan mendatangkan suatu kenikmatan walaupun sesaat. Inilah tantangan terbesar yang dihadapi oleh mereka yang ingin berubah. Mereka lebih berfokus pada kenikmatan sesaat (instant gratification) dibandingkan dengan kenikmatan yang tertunda (delayed gratification).       Sikap Menunda-nunda       Banyak alasan untuk tidak mengambil tindakan hari ini, dan alasan yang paling utama adalah perasaan takut. Orang yang mempunyai kebiasaan menunda suatu tindakan, sangat ahli dalam menemukan alasan-alasan yang kedengarannya sangat masuk akal. Mereka menunggu sampai datangnya saat tepat dan motivasi yang cukup kuat untuk maju. Namun sayangnya dengan berlalunya waktu, mereka tidak menemukan alasan untuk bertindak dan semkin lama ketakutan itu semakin besar. Maka benar adanya ungkapan “Laa tuakhir amalaka ilal goddi, maa taqdiru an ta’malahul yaum†– (jangan pernah menunda suatu pekerjaan ke esok hari apa yang kamu bisa lakukan hari ini). Atau dengan ungkapan kerennya “never put untill tomorrow what you can do todayâ€Â.          Ada seorang anak muda yang mempunyai cita-cita yang tinggi. Ketika ia masih belia, ia berkata kepada dirinya sendiri, “suatu hari nanti, aku akan melakukan apa yang menjadi cita-cita dalam hidupku, dan pada saat itu aku akan berbahagia.†Namun, ia tidak mengambil tindakan sedikitpun untuk mewujudkan cita-citanya. Ketika teman-temannya bertanya mengenai cita-citanya, ia berkata, “Nanti akan kulakukan setelah aku menyelesaikan studi dan pada saat itu aku akan berbahagia.†Setelah ia berhasil menamatkan pendidikannya di perguruan tinggi, ia kembali berjanji bahwa ia akan melakukan apa yang diinginkannya nanti setelah ia menemukan pekerjaan pertamanya. Ketika bertahun-tahun ia bekerja, orang tuanya menanyakan, kapan ia akan mengambil tindakan untuk mengejar cita-citanya, ia berjanji setelah ia berhasil menikahi yang dicintainya. Namun setelah bertahun-tahun ia menikah, ia berkata lagi, “Nanti setelah anak-anakku tumbuh dewasa dan aku tidak mempunyai beban keluarga yang berat lagi baru aku akan memulai mendapatkan apa yang kuimpikan.†Sekali lagi, ketika anak-anaknya telah menamatkan sekolah, ia berjanji akan melakukannya ketika ia pensiun. Namun sayangnya ketika ia pensiun, ia akhirnya berkata, “Sudah terlambat untuk memulainya sekarang.†Sebagai seseorang yang sudah tua, energi masa muda itu telah hilang, tahun demi tahun berlalu telah mengubur apa yang harus ia lakukan. Hal yang perlu kita ingat, kebiasaan menunda dapat membuat seseorang yang pada awalnya bersemangat akan kehilangan gairah dan berlari menjauhi apa yang menjadi impiannya. Kita juga harus selalu mengingat, selagi masih ada waktu, raihlah kesempatan itu. Tidak ada waktu yang tepat, satu-satunya cara adalah meraih apa yang tersedia pada saat ini dan bertindak sekarang juga, ya sekarang, bukan besok, bukan minggu depan, bulan depan atau tahun depan..tapi SEKARANG!       Paling tidak ada dua hal yang sangat penting mengapa pada akhirnya kita harus mulai menjalani semua impian dan cita-cita kita saat ini juga, bukan esok, bukan minggu depan, bulan depan, atau bahkan tahun depan, yaitu : §Â Ketika memulai menjalankan impian kita dan cita-cita kita pada saat ini juga, maka akan terbentuk naluri alamiah untuk bergerak dan aktif. Begitu juga ketika kita memulai belajar pada saat ini juga, maka naluri belajar kita akan terbentuk dari sekarang. Atau dengan kata lain, naluri belajar kita akan lebih cepat terbentuk dibandingkan bila kita baru mulai belajar esok hari. §Â Ketika kita memulainya pada saat ini juga maka mental pemenang kita akan mudah atau lebih cepat terbentuk dibandingkan bila kita memulainya besok.         Orang-orang Negatif       Mereka yang negatif dapat dikategorikan sebagai orang-orang gagal. Mereka selalu mengharapkan sesuatu berubah tanpa berani mengambil resiko dan langkah untuk mengubah diri dari hal yang terkecil di dalam diri mereka. Sekalipun kita memiliki sikap yang positif, sebaiknya hindarilah orang-orang yang negatif. Jika kita memiliki sikap yang positif dan bergaul dengan orang-orang yang positif, hasilnya akan sangat bermanfaat bagi pengembangan diri kita. Jika kita memiliki sikap yang positif dan berkumpul dengan orang-orang negatif atau sebaliknya, hal ini akan membuat semua pihak berangsur-angsur akan menjadi negatif. Ada seorang ilmuwan yang pernah melakukan riset terhadap sekelompok monyet. Empat ekor monyet dimasukkan ke dalam ruangan tertutup di mana di tengah-tengah ruangan ditaruh sebuah tiang yang ujung atasnya digantung setandan pisang. Secara naluri, keempat monyet tersebut bergegas naik untuk mengambil pisang tersebut. Namun setiap kali sang monyet berusaha menggapai pisang itu, ia langsung disemprot dengan air dingin. Berkali-kali para monyet bergantian untuk mengambil pisang, tetapi semuanya sama saja yaitu mereka terkena semprotan air dingin yang deras. Pada suatu saat, akhirnya para monyet tersebut akhirnya menyerah karena mereka merasa upaya mereka sia-sia. Setelah tidak ada lagi monyet yang berusaha mengambil pisang, eksperimen dilanjutkan dengan dengan mengeluarkan satu darti empat monyet tersebut dan diganti dengan monyet yang baru. Begitu monyet yang baru itu melihat pisang, ia langsung bergegas untuk mengambilnya. Namun usahanya langsung dicegah oleh tiga monyet senior yang sebelumnya telah merasakan dinginnya semprotan air. Walaupun berusaha untuk terus memanjat, monyet-monyet yang lain menghalang-halangi niatnya, dan sampai pada suatu saat sang monyet baru itu berhenti untuk mencoba. Eksperimen kemudian dilanjutkan lagi dengan memasukan satu monyet yang baru dan mengeluarkan satu monyet lama. Hasilnya juga sama, bahkan monyet baru yang pertama, juga ikut-ikutan menghalangi usaha monyet yang baru tadi untuk mengambil pisang. Eksperimen kemudian dilanjutkan sampai pad tahap akhir, di mana semua monyet yang lama dikeluarkan, dan yang sisa adalah empat monyet yang belum pernah kena semprot tetapi pernah dilarang oleh para pendahulunya. Alhasil, keempat monyet baru tersebut tidak berani memanjat untuk mengambil pisang walaupun tidak pernah kena semprotan air, dan yang paling menyedihkan, mereka tidak mengerti alasan yang sebenarnya mengapa pisang tersebut tidak boleh diambil.  Cerita ini menggambarkan bahayanya memasukkan informasi ke dalam pikiran kita. Padahal, jika monyet baru tersebut mencoba lagi, para peneliti tidak akan menyemprotkan air lagi. Sungguh mengenaskan melihat empat ekor monyet yang lapar tetapi kehilangan daya juangnya padahal makanan ada tepat di depan mata mereka. Hal yang menggelitik mengenai eksperimen ini, apa yang terjadi jika para monyet itu diganti dengan manusia, apakah menurut kita hasilnya akan sama? Jadi, kesimpulan yang dapat diambil dari eksperimen ini adalah bahwa kita harus hati-hati dengan orang-orang negatif di sekeliling kita. Maka W. Clement Stone mengatakan â€ÂBe careful the environment you choose for it will shape you. Be careful the friends you choose for you will become like them†– Berhati-hatilah karena lingkungan yang Anda pilih akan membentuk Anda. Berhati-hatilah dalam memilih teman karena Anda akan menjadi seperti mereka.  Wallahu a’lam bisshowaab.... |
|
| Last Updated ( Friday, 13 February 2009 10:32 ) | |


