| Cara Mengajar Lebih Penting daripada Kurikulum |
|
|
|
| Written by Administrator | |
| Saturday, 07 July 2007 09:54 | |
|
Kompas. Selasa, 4 Juni 2002 J Drost: Cara Mengajar Lebih Penting daripada Kurikulum Jakarta, Kompas - Materi kurikulum, terutama untuk mata pelajaran dasar, diseluruh dunia pada dasarnya sama. Yang membedakannya adalah cara guru mengajar di depan kelas. Cara guru mengajar di depan kelas ini justru lebih Hal ini diungkapkan pengamat dan praktisi pendidikan J Drost di depan peserta diskusi "Potret Pendidikan di Indonesia dan Peran Perguruan Swasta di Jakarta", Sabtu (1/6). Diskusi yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Kristen dan Penerbit Yudhistira itu juga menghadirkan pengamat sosial dan pendidikan Khoe You Tung, dan Staf Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas Zulfikri Anas. Di Indonesia, kemampuan cara mengajar di depan kelas inilah yang masih kurang dimiliki guru-guru. Padahal, materi pelajaran dalam kurikulum yang dipelajari itu di mana-mana sama," ujar Drost ketika menjawab pertanyaan dari salah satu peserta diskusi. Menurut Drost, pengajar di tingkat dasar seharusnya menggunakan guru kelas dan bukan guru bidang studi. Guru di tingkat dasar itu harus tahu nama semua anak yang diajarnya, dan mengetahui latar belakang keluarga anak didiknya. Informasi seperti ini penting diketahui oleh seorang pendidik agar bisa mengambil keputusan yang berguna bagi anak didiknya. Jangan sampai sekolah mengambil keputusan yang merugikan sebagian besar anak di sekolah itu hanya untuk memenuhi ambisi sebagian kecil orangtua terhadap anak didiknya," kata Drost. Â Â Â Guru BerkualitasMengenai kurikulum berbasis kompetensi, Koe You Tung melihat, belum semua sekolah mampu menerapkan kurikulum tersebut. Kurikulum berbasis kompetensi merupakan konsep pembelajaran yang amat ideal, tetapi dalam praktiknya membutuhkan guru yang berkualitas dan kreatif. Selain itu, keberhasilan kurikulum berbasis kompetensi sangat bergantung pada keadaan psikologis dan kondisi status sosial-ekonomi siswa. Di negara-negara maju, seperti Jepang, Korea, dan Australia, upgrading kurikulum selalu menyibukkan pemerintah dengan memberikan serangkaian pelatihan dan lokakarya bagi guru-gurunya. Tujuannya jelas, guru sebagai ujung tombak yang berhadapan langsung dengan siswa di kelas harus dapat menerapkan kurikulum baru dengan baik. Jelas bahwa kompetensi guru dalam melahirkan paradigma pembelajaran kreatif menjadi faktor utama. Tanpa persiapan dari tenaga pendidik di lapangan dan berbagai pihak, bukan tidak mungkin kurikulum berbasis kompetensi justru semakin menurunkan kualitas pendidikan nasional, demikian Koe You Tung. Menurut Zulfikri, kurikulum berbasis kompetensi merupakan suatu pilihan untuk mengangkat kualitas hasil belajar. Pendekatan ini dipilih untuk memenuhi tuntutan masyarakat yang menginginkan adanya perubahan, sebab "Pendidikan kita belum sepenuhnya mampu membangun karakteristik peserta didik sebagaimana yang diharapkan, yang terjadi lebih banyak transfer of knowledge daripada pembentukan kepribadian manusia," ujarnya. (MAM) Â |
|
| Last Updated ( Monday, 08 December 2008 09:42 ) |



