|
Saturday, 08 August 2009 08:12 |
Lindungilah buah hati kita dari dampak buruk Televisi Pesan ini disampaikan oleh : Keluarga Besar SDIT Bina Muda | Ibu, bapak yang kami hormati, walaupun momentumnya telah berlalu (kira-kira dua minggu yang lalu) tapi rasanya tidak terlalu terlambat bagi kami, kami hanya ingin sekedar mengingatkan pada kita semua, terutama para orang tua untuk terus turut serta mengkampanyekan “hari tanpa tv” di rumah kita Betul !, ada banyak sisi positif yang bisa kita dapat dari tayangan-tayangan TV, tetapi dibalik semua itu banyak juga tayangan-tayangan TV yang justru masuk pada kategori “BERBAHAYA” dan SANGAT MEMBAHAYAKAN PERKEMBANGAN ANAK-ANAK KITA, tidak hanya bagi kita orang dewasa, terlebih bagi anak-anak kita... Di usianya, kini mereka masuk pada fase meniru-niru perilaku, meniru bahasa, serta meniru karakter-karakter yang hadir setiap hari lewat film-film kartun, sinetron, tayangan entertainment berbau gosip, dan tayangan berbau kekerasan yang terbungkus lewat film-film anak. Bagi kita, tentu ini menjadi dilematis.... Nah, melalui artikel dibawah ini kami justru ingin berbagi mengenai tips “NONTON TV YANG MENYEHATKAN dan TIDAK MENYESATKAN
Program TV Berbahaya Bagi Anak-anak JAKARTA, SENIN -Maraknya program televisi untuk anak yang justru tak layak ditonton anak-anak tentunya mengundang keprihatinan. Komisi Penyiaran Indonesia dan sejumlah penelitian menunjukkan, tak sedikit acara televisi khusus anak yang mengandung unsur kekerasan dan seksual sehingga tak pantas dikonsumsi anak. Pada media Kidia edisi Juni-Juli yang dikeluarkan Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA), disebutkan daftar acara yang masuk dalam kategori Aman, Hati-hati, dan Bahaya untuk anak. Ingin tahu? Tayangan televisi yang Aman bagi anak bukan hanya tayangan yang menghibur, melainkan juga memberikan manfaat lebih. Manfaat tersebut, misalnya pendidikan, memberikan motivasi, mengembangkan sikap percaya diri anak, dan penanaman nilai-nilai positif dalam kehidupan. Sekalipun aman, orangtua diimbau mendampingi anak-anak menonton TV. Sementara itu, tayangan yang masuk dalam kategori Hati-hati adalah tayangan anak yang dinilai relatif seimbang antara muatan positif dan negatif. Sering kali tayangan yang masuk kategori ini memberikan nilai hiburan serta pendidikan dan nilai positif, namun juga dinilai mengandung muatan negatif seperti kekerasan, mistis, seks, dan bahasa kasar yang tidak mencolok. Nah, tayangan yang masuk dalam kategori Bahaya merupakan tayangan yang mengandung lebih banyak muatan negatif, seperti kekerasan, mistis, seks, dan bahasa kasar. Kekerasan dan mistis dalam tayangan yang masuk dalam kategori ini dinilai cukup intens sehingga bukan lagi menjadi bentuk pengembangan cerita, tapi sudah menjadi inti cerita. Tayangan dalam kategori ini disarankan untuk tidak disaksikan anak. Daftar acara TV yang masuk dalam kategori Aman, Hati-hati, dan Bahaya : AMAN : Varia Anak (TVRI), Bocah Petualang, Laptop Si Unyil, Jalan Sesama, Cita-citaku, Si Bolang ke Kota, Buku Harian si Unyil (TRANS7), Surat Sahabat, Cerita Anak, Main Yuk! (TRANS TV), Dora The Explorer, Go! Diego Go!, Chalkzone, Backyardians (TV G), dan Masa Kalah Sama Anak-anak (TV One) HATI-HATI : Idola Cilik Seleb, Rapor Idola Cilik Seleb, Doraemon, Pentas Idola Cilik, Rapor Pentas Idola Cilik (RCTI), Casper, Harveytoon (TPI), Transformers (AN TV), Pokemon Series, Bakugan Battle Brawlers, Konser Eliminasi 6 AFI Junior (IVM), New Scooby Doo Movie (TRANS7), SpongeBob Squarepants, Avatar: The Legend of Aang, Carita De Angel (TVG) BAHAYA: Tom & Jerry, Crayon Sinchan (RCTI), Si Entong, Tom & Jerry, Si Entong 2 (TPI), Popeye Original, Oggy & The Cockroaches (AN TV), Detective Conan, Dragon Ball, Naruto 4 (INDOSIAR), Tom & Jerry (TRANS7), One Piece, Naruto (TVG).
Kajian Tayangan Anak Bulan Maret 2009 Oleh: Yazirwan Uyun Kunjungi situs : http://www.kpi.go.id/ Tayangan anak merupakan satu dari sekian banyak program tayangan yang disuguhkan di layar kaca. Program tersebut sejatinya ditujukan bagi anak-anak agar mereka mendapat nilai-nilai positif bagi perkembangan dirinya seperti nilai agama, pendidikan, budi pekerti dan moral. Berdasarkan survei komposisi penonton televisi berdasarkan usia, penonton usia 5-15 tahun menempati porsi yang cukup besar yaitu hampir 30% (data AGB Nielsen 2008). Sementara itu, berbagai penelitian maupun kajian ditemukan program tayangan anak yang banyak mengandung unsur kekerasan, seksualitas, mistik dan perilaku negatif yang justru membawa pengaruh buruk bagi perkembangan diri dan mental sang anak. Terlebih lagi, lemahnya pengawasan orang tua dan masalah ketaatan stasiun tv terhadap regulasi yang berlaku berdampak terhadap anak-anak. Mereka tak lagi memiliki filter untuk membedakan mana tayangan yang baik dan yang buruk. Kajian terhadap tayangan anak dilakukan dengan mengidentifikasi pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan stasiun televisi terhadap Undang-undang Penyiaran No. 32 Tahun 2002 dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Dari hasil identifikasi tersebut secara empiris ditemukan program-program tayangan anak yang berkualitas dan tidak yang dapat melengkapi acuan KPI untuk bersikap terhadap stasiun televisi. Hasil kajian ini juga diharapkan dapat menjadi masukan bagi stasiun tv untuk selalu melakukan perbaikan isi tayangan. Sedangkan bagi para orang tua, kajian ini dapat menjadi pedoman untuk mengawasi anak-anak ketika menonton. Dalam kajian bulan Maret 2009, kami memberikan catatan 'hati-hati' (lampu kuning), 'bahaya' (lampu merah) dan 'aman' (lampu hijau) terhadap tayangan anak yang disiarkan di televisi. Untuk program dengan catatan 'bahaya', para orang tua harap melarang anak-anak menonton karena tayangan tersebut didominasi muatan negatif seperti kekerasan, mistik, seks dengan frekuensi yang tinggi dan dijadikan sebagai daya tarik utama. Untuk program dengan catatan 'hati-hati', para orang tua diminta mendampingi dan memberikan penjelasan kepada anak-anak atas adegan-adegan yang dinilai kurang baik. Sedangkan program dengan catatan 'aman' umumnya berisi bukan hanya hiburan tetapi juga memberikan manfaat seperti pendidikan, motivasi, mengembangkan sikap percaya diri dan penanaman nilai-nilai positif. Program anak sering dijumpai dalam film animasi/kartun. Memang sulit untuk memisahkan kehidupan anak-anak dari animasi/kartun. Masih ada anggapan bahwa semua film kartun adalah film anak-anak. Pada kenyataannya, tidak semua film kartun layak dikonsumsi oleh mereka. Ada begitu banyak film kartun yang bernuansa kekerasan seperti peperangan, perkelahian, aksi menjahili seseorang dan adegan tembak menembak. Secara tak sadar, pesan yang tertangkap dari film-film tersebut adalah solusi untuk memenangkan eksistensi dengan ’menjadi yang terkuat’. Malahan ada film kartun yang bernuansa percintaan dan mengarah kepada porno. Dalam 1 bulan, kami melakukan kajian terhadap 8-10 judul program tayangan anak yang berjumlah kurang lebih 25 episode. Metode pengambilan sample dilakukan secara acak sistematis (systematic random sampling), yaitu penentuan pilihan petama secara acak kemudian menetukan pilihan selanjutnya secara sistematis. Adapun prioritas pemilihan tayangan anak tersebut didasarkan atas beberapa hal, yaitu: 1) tayangan anak yang baru tayang di televisi. 2) tayangan anak yang banyak mendapat sorotan atau mendapat label bahaya. 3) tayangan anak yang memiliki tingkat popularitas tinggi (ditayangkan berulang-ulang/ re-run baik pada stasiun yang sama maupun stasiun yang berbeda). Setelah tayangan ditonton dan dianalisis, kami mengelompokkan pelanggaran-pelanggaran yang ada dalam 4 kategori pelanggaran yaitu: 1) mengandung unsur kekerasan. 2) mengadung unsur mistik 3) mengandung unsur pornografi. 4) mengadung unsur perilaku negatif. Dari hasil kajian ditemukan bahwa unsur kekerasan merupakan unsur pelanggaran yang dominan dalam program tayangan anak bulan Maret 2009. Dengan berpedoman pada P3SPS, unsur kekerasan pada program anak tersebut ditemukan dalam bentuk penayangan adegan kekerasan yang mudah ditiru anak-anak, baik verbal maupun non verbal (pasal 63 c) dan penayangan adegan yang memperlihatkan perilaku dan situasi membahayakan yang mudah atau mungkin ditiru anak-anak (pasak 63 d). Sedangkan unsur mistik yang ditemukan berupa muatan yang secara berlebihan mendorong anak percaya pada kekuatan paranormal, klenik, praktek spiritual magis, misitk dan kontak dengan roh (pasal 63 f). Sedangkan unsur perilaku negatif banyak ditemukan dalam bentuk mengejek atau menghina seseorang dengan menggunakan kata-kata yang merendahkan (pasal 13 ayat 1) dan memaki orang lain dengan kata-kata kasar (pasal 63 e). Berikut deskripsi kualitatif pelanggaran P3SPS pada program-program tayangan anak: 1. Ultraman Tiga Film ini berkisah tentang sosok pahlawan super raksasa yang berasal dari planet luar bumi bernama UltramanTiga. Ia hadir ke bumi dalam rangka memerangi monster raksasa. Ultraman Tiga merupakan perwujudan dari sosok manusia bernama Diego yang bergabung sebagai pasukan perdamaian bumi Guts. Beberapa pelanggaran P3SPS yang ditemukan dalam tayangan Ultraman Tiga adalah unsur kekerasan dalam bentuk adegan perkelahian antara Ultraman Tiga dengan monster raksasa serta penghancuran gedung bertingkat akibat ulah monster raksasa. Meski demikian adegan kekerasan yang muncul dalam film kini masih dalam batas kewajaran baik dalam kualitas maupun kuantitas. Adegan kekerasan dalam film ini hanya sekedar pelengkap dan tidak mengarah pada sadisme. Untuk itu tayangan ini diberi catatan ”hati-hati” 2. Tarzan Cilik Sinetron ini berkisah tentang tarzan kecil yang diperankan oleh Ibrahim Alkatiri yang biasa dipanggil Baim. Tarzan yang semula tinggal di hutan terbawa oleh seorang anak bernama Saskie ke kota dan akhirnya tinggal di rumah Saskie. Jalan cerita ini banyak mengulas keluguan tarzan dan kemampuannya berbicara dengan hewan. Secara umum sinetron ini memang pantas dimasukkan dalam program tayangan anak karena tokoh utamanya diperankan oleh seorang anak. Namun berdasarkan analisis terhadap 3 episode sinetron ini, ditemukan banyak pelanggaran P3SPS. Pelanggaran dominan yang ditemukan adalah unsur kekerasan dalam bentuk perilaku dan situasi bahaya yang mudah ditiru anak, misalnya adegan saat Tarzan menggunakan ketapel untuk melemparkan tutup botol air mineral dan buah jeruk ke mulut Olga (episode 44, 10 Maret 2009). Begitu pula saat Tarzan menaruh bayi di atas daun pisang dan menyeretnya (episode 44). Kemudian saat Tarzan menggantung tempat tidur bayi beserta bayinya di atas dahan pohon (Episode 45, 11 Maret 2009). Meskipun hal itu seolah ingin menunjukkan keluguan Tarzan namun sangat berbahaya jika ditiru anak-anak. Terdapat juga perilaku yang cukup mengkhawatirkan yaitu adegan kekerasan fisik meski tidak dalam bentuk serius, misalnya saat Olga secara tidak sengaja memukul gagang sapu mengenai selangkangan Kevin (episode 46, 12 Maret 2009). Ditambah lagi terdapat adegan Kevin mengangkat kakinya untuk dicium Olga yang sedang mengigau (Episode 47, 13 Maret 2009). Atas dasar pelanggaran tersebut, tayangan ini diberi catatan ’hati-hati’. 3. George of The Jungle Film kartun ini mengisahkan pemuda bodoh namun pemberani bernama George yang tinggal di hutan. Selain George juga terdapat Ursula, seorang perempuan yang diceritakan sebagai kekasih George. Juga terdapat hewan-hewan sebagai sahabat George yang dapat berbahasa manusia. Dari 3 episode yang dianalisis, ditemukan pelanggaran terhadap P3SPS yang dominan, yaitu unsur kekerasan yang melebihi batas kewajaran dan cenderung mengerikan, misalnya George terkena petir hingga hangus (episode 1 Maret 2009), saat Gorge terjatuh hingga kepalanya terbentur batu keras (Episode 15 Maret 2009). Adegan-adegan tersebut memperlihatkan kekerasan sebagai hal yang biasa dan tidak berdampak apapun. Bayangkan jika semua adegan tersebut dipraktekkan oleh anak-anak, tentu saja amat sangat berbahaya. Atas dasar itulah, film kartun ini diberi catatan ’bahaya’ 4. Kaiketsu Zorori Film ini mengisahkan tentang petualangan seekor rubah yang penuh tipu daya bernama Zorori yang berkeinginan menjadi seorang raja kejahatan, memiliki istana dan permaisuri yang cantik. Zorori mempunyai kecerdasan dan ketangkasan untuk selalu menemukan jalan keluar dari situasi yang tidak menyenangkan. Dia terus berusaha untuk membuat mediang ibunya bangga. Dari 1 episode yang dianalisis, belum ditemukan pelanggaran. Untuk itu film ini diberi catatan ’aman’ 5. Gekifu Film kartun Gekifu bercerita tentang sebuah permainan (games) di antara beberapa anak yang memiliki monster siluman. Tokoh utama film ini seorang anak bernama Sanshiro yang memiliki teman hantu ’Fe’. Fe lah yang mengajak Sanshiro mengikuti permainan Gekifu untuk membebaskan monster siluman. Melalui permainan akan ditentukan siapa yang berhak mendapat gelar siluman terkuat. Setiap pemain akan dibekali kartu berisi monster yang bisa digunakan untuk menamatkan permainan. Dari 2 episode yang dianalisis tidak ditemukan pelanggaran yang cukup berarti. Sedikit sekali kekerasan yang muncul. Hanya saja jalan cerita film ini yang berkisah tentang hantu dan siluman dikhawatirkan dapat menggiring pemahaman anak-anak untuk percaya pada hal-hal msitik. Atas dasar itu, film Gekifu perlu diberi catatan ’hati-hati’. 6. Casper’s Scare School Film animasi Casper’s Scare School berkisah tentang kehidupan hantu dan siluman siswa sekolah hantu. Sekolah hantu mendidik semua hantu dan siluman untuk menjadi hantu dan siluman yang menakutkan bagi manusia. Casper yang dikenal sebagai hantu yang baik tidak ingin menakuti manusia. Dengan bantuan kedua temannya mumi dan zombie, Casper berusaha mencegah setiap rencana jahat hantu dan siluman lain. Dari 2 episode yang dianalisis, pelanggaran yang dominan adalah muatan kekerasan yang cenderung sadis, seperti kepala Samantha si zombie yang dicopot setelah dipotong temannya (Episode 8 Maret 2009). Belum lagi saat Samantha mencopot matanya untuk melihat buku-buku di perpustakaan (Episode 15 Maret 2009). Hal-hal tersebut sungguh mengerikan jika ditiru anak-anak. Atas dasar hal tersebut, film anaimasi ini diberi catatan ’bahaya’ 7. Transformer Galaxy forces Serial ini mengisahkan tentang petualangan 2 robot besar yaitu Autobots dengan Decepticons dalam mempertahankan galaxy tempat tinggal robot. Dari 3 episode yang dianalisis, tidak ditemukan pelanggaran P3SPS yang cukup signifikan. Film ini lebih menekankan pada jalan cerita yang positif seperti usaha untuk menjadi berani, bagaimana menolong teman dan menjadi pemimpin yang baik. Atas dasar itu, serial ini diberi catatan ’aman’. 8. Ronaldowati babak 2 Sinetron ini berkisah tentang sekelompok anak yang gemar bermain sepak bola. Beberapa tokoh yang dominan dalam sinetron ini, antara lain Ronaldowati yang dikenal dengan tendangan super kuat, Mat Gondrong yang terkenal dengan sundulan super, serta ceking yang dikenal dengan kecepatan larinya. Pelanggaran yang dijumpai dalam tayangan ini adalah mengandung unsur kekerasan dan perilaku negatif, seperti perkelahian Mat Gondrong dan Ceking hingga terguling-guling. Juga terdapat adegan Ceking memindahkan kursi yang diduduki Mat Gondrong yang menyebabkan ia jatuh. Adegan seperti itu sangat berbahaya jika ditiru anak-anak karena dapat menyebabkan kecelakaan fisik. Belum lagi pernyataan-pernyataan yang bersifat ejekan dan makian kerap muncul dalam setiap episode, seperti gembrot, pelit, kutu kupret, gentong air. Atas dasar itu, tayangan ini diberi catatan ’bahaya’. Jika dilihat dari klasifikasi acara BO/Remaja yang diberikan TPI dan waktu penayangan pk 19.00-21.00 merupakan hal yang sudah tepat. Namun demikian sinetron ini ditayangkan juga pada pagi hari pukul 07.00-09.00 yang merupakan jam tayang dimana banyak anak-anak yang menonton tv. 9. Back at Barnyard Film ini berkisah tentang kehidupan binatang ternak yang dapat berbicara dan berinteraksi dengan manusia. Dari 2 episode yang dianalisis, didapatkan beberapa pelanggaran P3SPS dalam bentuk unsur kekerasan dan perilaku negatif. Kekerasan dapat dijumpai ketika polisi menyetrum Otis dengan sengatan listrik, adegan anak memaksa temannya mencium jejak rusa dengan menginjak kepala temannya (Episode 21 Maret 2009). Aksi-aksi tersebut berbahaya jika ditiru anak-anak. Untuk itu, film ini diberi catatan ’bahaya’ Dari kajian tayangan anak bulan Maret 2009 dapat disimpulkan pelanggaran terberat ada pada unsur kekerasan. Untuk itu semua tayangan anak dengan catatan ’bahaya’ (lampu merah) harus mencantumkan klasifikasi acara Remaja/Bimbingan orang tua (R/BO), seperti Casper’s Scare School, George of the Jungle, Back at Banyard dan Ronaldowati Babak 2. Selain harus mencantumlan klasifikasi acara, program-program tersebut sebaiknya tidak ditayangkan dengan teknik mendahului (lead in) program anak lainnya maupun sesudahnya. Tujuannya untuk meminimalisasi kemungkinan anak-anak setelah menonton program dengan klasifikasi anak berlanjut menonton program-program untuk remaja dan dewasa (IU) |
|
Last Updated on Saturday, 08 August 2009 09:25 |
|
Orang Tua dan Pilihan Pendidikan Bagi Anak |
|
|
|
|
Tuesday, 09 December 2008 02:18 |
|
Orang Tua dan Pilihan Pendidikan Bagi Anak Oleh : USEP SAEFUROHMAN, S.Pd. (Class Master SDIT Bina Muda) Suara dan pilihan masyarakat akhir-akhir ini bak gula yang dirindukan semut, menjadi rebutan bagi pihak-pihak yang mempunyai kepentingan tertentu. Tidak hanya diperebutkan oleh capres dan cawapres dengan menjual visi, misi, dan platform mereka, tapi juga oleh sekolah-sekolah yang menawarkan visi, misi, keistimewaan, dan segala kelebihan yang dikemas sebagus mungkin agar masyarakat jatuh hati dan menentukan pilihan sesuai dengan keinginan mereka. Bedanya, menjelang pilpres, masyarakat akan menitipkan suara sebagai amanat kesejahteraan bangsa, sedangkan menjelang penerimaan siswa baru, masyarakat akan menitipkan anak-anaknya ke sekolah sebagai amanat masa depan anak bangsa. Salah satu faktor penentu masa depan anak bangsa adalah keluarga. Lembaga pendidikan pertama saat manusia terlahir ke dunia adalah keluarga. Sebuah keluarga memiliki investasi afeksi yang tidak dapat tergantikan oleh peranan lembaga lain di luar keluarga, seperti sekolah, lembaga agama dan masyarakat. Meskipun memiliki posisi sangat strategis sebagai tempat investasi afeksi pertama sang anak dalam masa-masa awal pertumbuhannya, posisi istimewa orang tua ini juga bisa menjadi titik lemah bagi pembentukan karakter anak. Sebab, tidak ada korelasi antara kemampuan untuk melahirkan anak dengan kemampuan diri orang tua untuk menjadi pendidik. Untuk menjadi orang tua hanya prasyarat biologis yang diperlukan, sedangkan untuk menjadi pendidik dibutuhkan pengalaman, keahlian, dan pemahaman tentang pedagogi. Jadi, visi pendidikan dan keyakinan filosofis, dan pengalaman pribadi orang tua tentang pendidikan anak inilah yang menentukan berhasil tidaknya orang tua menjadi pendidik bagi anak-anaknya. Mengingat tidak adanya korelasi antara kapasitas biologis untuk menjadi orang tua dan kapasitas mereka untuk menjadi pendidik, tidak jarang bahwa anak justru memperoleh pendidikan yang kurang baik di dalam keluarga sehingga proses penanaman nilai tidak terjadi di dalam keluarga. Selain itu, ketika anak semakin menginjak dewasa dan butuh untuk mengembangkan pengetahuannya, orang tua memiliki keterbatasan dalam hal kompetensi, metode dan sarana dalam membantu pertumbuhan anaknya sendiri. Untuk inillah hadir lembaga-lembaga pendidikan yang membantu anak itu berkembang dengan lebih baik sehingga seluruh potensi yang ada dalam dirinya dapat tumbuh. Pemahaman orang tua tentang jenis pendidikan bagi anaknya sangatlah bervariasi mengingat jumlah sekolah yang semakin banyak dengan segala macam karakter dan kekhasan yang menjadi kelebihannya. Tapi paling tidak ada tiga pendapat tentang cara-cara orang tua memberikan pendidikan bagi anak mereka jika dilihat dari cara mereka menentukan pilihan jenis sekolah. Pertama, ada orang tua yang menginginkan anaknya dididik dalam konteks multicultural. Mengingat bahwa masyarakat menjadi semakin plural dalam segala hal baik dari sisi pandangan hidup, agama, sosial, budaya, ideologi politik, dan keterampilan. Orang tua merasa lebih aman dan nyaman mempercayakan pendidikan anak mereka dalam sekolah yang dikelola oleh Negara. Lewat sekolah umum ini anak akan mengalami suasana pembelajaran yang multicultural. Anak berjumpa dengan pola perilaku, kebiasaan, dan carta pikir yang relative berbeda dengan yang mereka alami di rumah. oleh karena itu, orang tua memilih sekolah umum yang dikelola oleh Negara. Metode pendidikan ini biasanya kilasikal dan umum. Kedua, ada orang tua yang menginginkan anaknya mengalami sebuah proses pendidikan yang berkesinambungan dengan pendidikan yang telah terjadi di rumah dengan mempercayakan pada lembaga pendidikan agama tertentu, yang memberikan pendidikan khusus, yang para muridnya hampir dikatakan memiliki habitus, kebiasaan, cara-cara dan pola berpikir sama dengan ajaran iman yang dimiliki oleh anak di dalam keluarga. Model pendidikan yang dikelola oleh lembaga agama tertentu membuat orang tua merasa aman dan nyaman, terutama tentang pertumbuhan pendidikan iman anak-anak mereka. Biasanya model pendidikan dari lembaga pendidikan ini adalah tradisional-konservatif. Ketiga, ada orang tua yang tidak puas dengan pelayanan pendidikan yang diberikan oleh Negara dalam bentuk sekolah umum maupun pelayanan pendidikan oleh lembaga keagamaan dalam bentuk sekolah swasta keagamaan, sebab kedua lembaga ini memiliki pendekatan tradisional-konservatif yang kurang relevan dengan tuntutan zaman. Anak buth kecakapan dan keterampilan khusus yang tidak ditemukan di dalam kedua lembaga pendidikan tersebut. Oleh karena itu, ada orang tua yang menyerahkan anak-anak mereka untuk dididik dalam sebuah lembaga alternatif yang memberikan pendekatan kreatif, progresif dalam karya pendidikan mereka. Apapun pilihannya, orang tua tetap memiliki kepentingan bagi kemajuan pendidikan masa depan anak-anak mereka. Dalam hal ini, tanggung jawab orang tua tidak hilang, melainkan diperluas dengan melibatkan lembaga lain karena keterbatasan yang mereka miliki. Dengan begitu, keluarga dan sekolah sama-sama bertanggung jawab terhadap tumbuh kembang mereka sebagai genarasi penerus bangsa. |
|
Last Updated on Wednesday, 19 August 2009 18:27 |
|
|
Mengembangkan Intelektualitas Guru |
|
|
|
|
Sunday, 23 August 2009 00:00 |
Mengembangkan Intelektualitas Guru Oleh : USEP SAEFUROHMAN, S.Pd. (Class Master SDIT Bina Muda) Disadari atau tidak, realitas dunia pendidikan telah memperlihatkan kepada kita bahwa ternyata masih banyak di antara guru yang kurang mampu mengembangkan tugas dan tanggung jawab intelektualnya sebagai tuntutan kreativitas. Dalam proses pembelajaran misalnya, tidak sedikit guru hanya menjelaskan apa yang sudah tertulis dalam buku, ia tidak berani menjelaskan dengan cara lain, karena menurutnya, tugas guru memang menyampaikan persis apa yang diuraikan di buku pelajaran. Baginya, buku paket adalah satu-satunya senjata ampuh yang memberi petunjuk apa yang harus diajarkan di dalam kelas. Tanpanya, dia akan merasa bingung karena tidak tahu apa yang akan disampaikan di kelas, dan merasa pusing tujuh keliling karena buku paket adalah satu-satunya sumber dan bahan ajar yang mutlak diperlukan. Jika tidak ada pembaruan dan pengembangan terhadap kondisi demikian, tugas sebagai seorang guru tidak ada bedanya seperti ‘tukang’ teknis belaka. Seorang tukang biasanya tidak banyak mengembangkan, tetapi hanya memindahkan dan memasang, tanpa boleh berpikir lain dan berpikir maju. Bila tuntutannya bentuk persegi, maka tukang hanya membuat persegi, semuanya harus persis tanpa boleh ada penyimpangan, termasuk penyimpangan yang lebih baik. Akibatnya, guru tidak akan dapat membantu siswa berubah atau berkembang secara optimal karena miskin ilmu, lemah karya dan kerdil akan kreativitas. Kenyataan ini diperkuat dengan beberapa praktek di masa lampau, di mana bila ada lokakarya guru, selalu yang dibahas adalah bagaimana mengajarkan bahan, bagaimana memberikan bahan, bagaimana mentrasferkan bahan, dan jarang mengembangkan sisi keilmuan itu sendiri. Karena kuranya kreativitas yang dimiliki, muncullah guru pengekor, penjiplak, tidak kritis, tidak terbuka pada pemikiran baru, tidak berani berinisiatif untuk mencari dan menemukan hal-hal baru dan terlalu takut untuk berpikir dan bertindak ‘beda’ dengan kebanyakan orang. Giroux, secara kritis dan keras menentang gagasan, anggapan, dan praktek di atas. Bagi Giroux, guru seharusnya dipandang dan diusahakan mampu bertindak sebagai seorang intelektual transformatif. Seorang intelektual yang dapat ikut merubah suasana dan keadaan, yang mampu menjadi agen perubahan masyarakat lewat anak didik yang dibantu secara kritis. Sebagai tanggung jawab intelektualnya, ia harus terus mencari dan tidak puas dengan apa yang diketahui dan dipunyainya. Ia harus terbuka terhadap semua perkembangan baik dalam soal pengetahuan, pembelajaran, mapupun kehidupan. Sebagai seorang intelektual, guru harus mampu mengembangkan sikap-sikap yang dikembangkan layaknya seorang intelektual, antara lain : Pertama, terus belajar tanpa henti. Dengan terus belajar, wawasan dan pengetahuan seorang guru akan semakin berkembang menyesuaikan perkembangan dan tuntutan zaman. Seorang intelektual yang berhenti belajar, jelas ilmunya juga akan berhenti dan zaman akan meninggalkannya. Belajar tidak selalu diidentikan dengan usaha pencapaian title atau gelar akademik, tapi lebih dari itu belajar merupakan upaya seorang intelektual untuk mengembangkan dirinya lewat buku, Koran, majalah, internet, diskusi, oraganisasi dan pembelajaran kehidupan lainnya. Kedua, berpikir rasional, kritis, dan bebas. Sebagai seorang intelektua, guru harus mampu berpikira rasional, dia dapat mengembangkan pemikiran yang berdasarkan alasan, argumentasi dan logika yang benar, bukan berdasarkan emosi asal menang. Dia akan menganalisa persoalan berdasarkan pada fakta dan kejadian yang ada, bukan dengan perasaan. Ia selalu berpikir kritis ketika dihadapkan dengan sesuatu hal, tidak hanya asal menerima saja, tetapi selalu bertanya apakah hal itu memang sudah benar demikian, atau ada sesuatu yang tidak benar, atau masih dapat dikembangkan. Ia bukan penurut kurikulum saja, tetapi kritis terhadap kurikulum dan kreatif untuk memperbaruinya. Ia bebas untuk berpikir dan mengembangkan pikirannya, ia dapat saja dikekang dan diintimidasi secara fisik, tapi ia tetap dapat bebas mengembangkan pikirannya. Tentunya kebebasan berpikir yang siap ia pertanggung jawabkan. Untuk itu, seorang guru harus punya keberanian untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya. Ia mesti berani menorehkan kebebasan berpikiranya lewat lisan maupun tulisan. Ketiga, berani bertindak dengan melanggar aturan dan menghancurkan pola lama. Guru sebagai intelektual harus punya keberanian untuk bertindak sendiri, tidak harus terpaku pada aturan main. Ia bukan ‘tukang’ yang asal menjalankan perintah atau aturan, tatpi seorang yang melihat situasinya dan bertindak sesuai dengan situasi dan kondisi kekinian yang dibutuhkan. Ia berani mempertanggung jawankan dengan segala resiokonya, ia bukan tipe guru yang selalu mencari aman, ia bukan pula sebagai pengekor yang selalu ikut-ikutan kemana kebanyakan orang bersikap dan bertindak, tapi ia punya keberanian ambil keputusan sendiri. Dengan demikian, seorang guru yang mampu mengembangkan intelektualitasnya, ia akan siap mengembangkan anak didiknya menjadi generasi-generasi perubah yang sipa tampil baik di keluarga, sekolah dan masyarakat. |
|
Last Updated on Sunday, 23 August 2009 15:05 |
|
Tuesday, 12 August 2008 09:26 |
Wisata Buku Lagi..... Naik Kereta Lagi.....Insya Allah, Program Wisata Buku SDIT Bina Muda 2009-2010 akan dilaksanakan pada hari Selasa 11 Agustus 2009 ke Pameran Buku Bandung 2009, Landmark Bandung, tentu berbeda dengan wisata buku 1 tahun yang lalu, kali ini peserta yang akan mengikutinya lumayan cukup banyak. Mulai dari siswa kelas 1, kelas 2 dan kelas 3, bagi temen-temen baru (khususnya kelas 1, kelas 2 (pindahan) dan kelas 3 (pindahan) Wisata buku kali ini adalah kegiatan kali pertama bagi mereka, tapi buat sahabat-sahabat kita (siswa angkatan pertama-yang sekarang dudud di kelas 2) kegiatan ini merupakan Wisata Buku kali kedua untuk tempat kunjungan yang sama (Pameran Buku Bandung 2009, Landmark Bandung). Bersiap...!! ayo beli buku yang banyak ya....!! Wisata Buku berikutnya..... Erlangga Sukarno-Hatta (setelah Lebaran Iedul Fitri 1430 H) http://galuh-purba.com/rieke-diah-pitaloka-di-pesta-buku-bandung-2009-mari-membaca-buku-agar-tidak-oon "Mari Membaca Buku, biar gak oon !!" WISATA BUKU (WISBUK) Wisbuk 1, 5 Agustus 2008 Pameran Buku Bandung, Landmark Bandung Wisbuk 2, 17 Oktober 2008 Gedung Perpustakaan Daerah (PUSDA) Bandung Wisbuk 3, 27 Nopember 2008 Toko Buku Karunia Ilmu, Cicalengka Wisata Buku, bertujuan antara lain : - Mengenalkan serta membiasakan dan menumbuhkan budaya baca pada anak sejak dini
- Menumbuhkan kebiasaan berinvestasi pada buku, disetiap kegiatan wisata buku, anak diharuskan untuk membeli minimal 1 buah judul buku dengan harga tidak melebihi batas maksimal yang di tentukan oleh pihak sekolah
- Menjadikan buku sebagai teman anak sehari-hari, “tiada hari tanpa buku, tiada hari tanpa membaca”
Follow Up atau tindaklanjut dari kegiatan ini antara lain, Seluruh siswa SD terdaptar sebagai anggota PUSDA Jawa Barat dan setiap dua minggu sekolah meminjam buku ke PUSDA untuk siswa di kelas (berlangsung selama satu bulan/dua kali peminjaman)
WISATA PERJALANAN (Wisata Kereta) Pada kegiatan ini, kemandirian anak menjadi salah satu fokus pembelajaran, di setiap kegiatan keluar anak tidak diperkenankan didampingi langsung oleh orang tuanya, seperti halnya waktu kegiatan mereka pada waktu di TK, anak dituntut (belajar) untuk menunjukan sikap mandiri, karena faktanya, anak tidak akan selalu berdampingan dengan orang tua (dewasa), pengalaman langsung yang dialami anak ; mulai dari mengikuti antrian, membeli tiket, naik kereta,dan kegiatan lainnya dituntut untuk dilakukan secara mandiri.
KUNJUNGAN PENDIDIKAN Belajar bisa dilakukan dimana dan kapan saja. Pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, menjadi lebih menarik apabila dikemas dengan cara dan waktu yang tepat, selain menjadi pengalaman tersendiri bagi anak, lingkungan sekitar dapat dikatakan sebagai laboratorium sosial yang real & benar-benar menghadirkan kejadian-kejadian, pengalaman-pengalaman yang sesungguhnya (nyata). Pada kegiatan ini anak belajar tentang bagaimana menghadapi realitas sosial yang terjadi, menggali informasi yang ingin mereka peroleh langsung dari sumbernya, selain itu anak dituntut untuk langsung melakukan interaksi dan belajar beradaptasi dengan keanekaragaman anggota masyarakat, bisa dengan anak seusianya, orang dewasa bahkan orang tua sekalipun, dari berbagai profesi dan latar belakang. Seperti halnya kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan pada acara kunjungan pendidikan yang dilaksanakan pada hari Kamis, 27 Nopember 2008 yang lalu, anak langsung di ajak “jalan-jalan” ke Kantor Polisi Polsek Cicalengka dan Dinas Pemadam Kebakaran Cicalengka.  Pengalaman menarik dari kegiatan ini adalah, selain secara langsung berkesempatan untuk berdialog dengan Bapak-bapak dari Kepolisisan Resort Cicalengka (mengenal profesi POLISI dari dekat), anak SDIT Bina Muda diberi kesempatan oleh Dinas DAMKAR Cicalengka, untuk jalan-jalan dengan menggunakan mobil pemadam kebakaran keliling Cicalengka, ini mungkin pengalaman yang cukup berharga sekaligus langka bagi mereka. ... Outbond & Ramadhan ceria,lihat selengkapnya |
|
Last Updated on Sunday, 09 August 2009 07:40 |
|
Read more...
|
|