top
logo




Pengunjung

User Online

We have 1 guest online

Feed Entries
Home
Dari Kami
Asyiknya Outbound di Cantigi Camp PDF Print E-mail
User Rating: / 7
PoorBest 
Written by Administrator   
Monday, 26 April 2010 23:13
SEJUMLAH murid SDIT Bina Muda Cicalengka dipandu para instruktur melakukan salah satu kegiatan outbound di Cantigi Camp, Kec. Cileunyi, Kab. Bandung, beberapa waktu lalu.
KAMIS, 1 April lalu, sekolahku (SDIT Bina Muda Cicalengka, Kab. Bandung) mengadakan kegiatan outbound ke Cantigi Camp di Kec. Cileunyi, Kab. Bandung. Aku pergi dari sekolah pukul 8.00 WIB dan sampai di lokasi sekitar pukul 8,44 WIB, naik angkot. Sesampainya di sana, aku dan teman-teman berolah raga dan bernyanyi bersama kakak-kakak instruktur yang ada di Cantigi Camp, seru lhooo...

Di sana banyak sekali permainan yang kami ikuti, di antaranya membuat kerajinan dari tanah liat, permainan lumpur,dan flying fox. Saat membuat kerajinan dari tanah liat, aku membuat Dinosaurus lho.... Sementara pada permainan lumpur, aku masuk regu Viking dan melawan regu Kucing. Sayangnya, aku kalah. Lalu, saat bermain flying fox, awalnya sih aku deg-degan karena takut banget, tetapi lama-lama aku jadi berani juga.

Untuk permainan air, aku berjalan di atas jembatan dan harus bersalaman bersama teman, ada juga lomba menangkap ikan di kolam yang airnya dangkal. Permainan selanjutnya menanam dan mencabut pohon singkong, lalu memetik daunnya untuk memberi makan kelinci, dan terakhir permainan menangkap ikan di kolam sambil berenang. Aku sangat senang ikut permainan ini.

Setelah semua kegiatan selesai, aku dan teman-temanku mandi dan berganti pakaian, lalu makan siang bersama. Setelah beres makan aku dan teman-teman salat zuhur berjamaah. Setelah itu, aku dan teman-teman pulang naik mobil angkot lagi.***

(Fazril  A.N, kelas I SDIT Bina Muda Cialengka, Kab. Bandung)
Penulis:
Last Updated ( Monday, 26 April 2010 09:22 )
 
SDIT Bina Muda Cicalengka Gelar Outbound di Cantigi Camp PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Sunday, 10 August 2008 23:15

SDIT Bina Muda Cicalengka Kabupaten Bandung menggelar acara outbound di Cantigi Camp Cileunyi, Kamis (1/4) lalu. Acara yang diikuti seluruh murid tersebut bertujuan untuk menumbuhkan rasa kebersamaan, cinta lingkungan, serta meningkatkan rasa kepercayaan diri pada murid-murid. Setelah kegiatan tersebut, seluruh murid ditugaskan membuat eLKAP (lembar kegiatan akhir pekan) dengan tema yang diambil "Andai Aku Menjadi Wartawan", dengan menceritakan kembali hal-hal yang mereka alami, rasakan, dan lihat serta menuangkannya menjadi tulisan. (Dewi S.A.)***

Last Updated ( Monday, 26 April 2010 09:05 )
 
Sikap Pemalu Pada Anak PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 11 August 2008 15:14

Sikap Pemalu Justru di dapat dari belajar

Mungkin selama ini kita tak pernah tahu, tak ada anak yang dilahirkan sebagai pemalu.
Mau tahu siapa "biang kerok"nya? Ternyata, orang tua! Punya anak pemalu kerap bikin jengkel.
Ke mana-mana dan di mana saja, si kecil menempel atau sembunyi di balik orang tua/pengasuhnya. Apalagi kalau diajak ke sebuah lingkungan baru yang dirasanya asing. Yang pasti, seperti dituturkan Dra. Frida NRH, MS, staf pengajar jurusan Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang, ada beberapa kategori anak pemalu. Ada yang tak berani tampil di tempat umum,
tak mau bertemu orang, ada pula yang mau bertemu orang tapi tanpa melakukan sesuatu, terlebih yang bersifaf kompetitif. Bahkan ada yang saking pemalunya, enggan bertemu orang. Jika terpaksa, badannya gemetar, keluar keringat, bahkan jadi kebelet pipis.

Pada kasus yang ekstrim itu, "Si pemalu disebut menderita fobia sosial. Ia perlu bantuan ahli untuk penyembuhannya," kata Frida. Namun jangan cemas jika si kecil yang cenderung pemalu akan menderita fobia sosial tersebut. "Itu sangat jarang terjadi, kok. Terlebih jika orang tua sejak awal sudah peka bahwa anaknya ada kecenderungan menjadi pemalu dan bisa segera mengatasinya."

Dari "Belajar"

Frida yakin, tak ada anak yang dilahirkan sebagai pemalu. "Dia jadi pemalu lebih disebabkan lingkungan tempat ia belajar." Anak, lanjutnya, mengalami proses (sejak lahir) bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya yang lalu memberinya suatu pelajaran bahwa, "Saya harus malu." Jadi, "Ada pengalaman yang membuat si anak mengambil kesimpulan bahwa ia harus muncul sebagai pemalu terhadap lingkungannya." Sayangnya, orang tua sering tak sadar, mereka telah menciptakan suatu lingkungan yang membuat anaknya jadi pemalu. Anak "belajar" dari perlakuan yang diterima, amati, dan rasakan dari ayah-ibunya. Contohnya, anak yang sering diperlakukan negatif. "Mau ini-itu, dicela dan dilarang. Dari sinilah bibit pemalu bisa muncul." Demikian juga anak yang terlalu dilindungi, yang akhirnya membuatnya sulit melakukan penyesuaian dengan lingkungan. Frida mengibaratkan anak dalam kepompong, yang selalu dilindungi dan dibantu. "Akibatnya, anak tak pernah bisa mandiri," tutur pengurus Lembaga Perlindungan Anak Jawa Tengah ini.

Contoh lain adalah anak yang biasa menerima kasih sayang untuk sikap-sikap yang kondisional. "Si anak disayang orang tua kalau menurut, bersikap baik. Pokoknya, semacam ada syaratnya." Alhasil, hal ini akan terbawa saat ia harus berhubungan dengan lingkungan luar. Ia merasa, kalau mau diterima dengan baik, ada persyaratannya yang mesti dilakukannya. Padahal, lanjut Frida, anak punya persepsi tentang dirinya sendiri. Kalau sering diberi syarat, ia jadi berpikir, "Oh, Mama dan Papa mensyaratkan begitu. Jadi, kalau syaratnya belum bisa saya penuhi, saya belum sempurna betul untuk tampil."

Dampak selanjutnya, anak akan takut berkompetisi karena ia selalu merasa orang lain akan lebih dari dirinya. "Nah, itu, kan, membuatnya makin merasa malu untuk tampil. Sebab, ia merasa tak aman." Perasaan kurang PD (percaya diri) itulah yang membuatnya merasa, orang lain tak welcome menerima dirinya atau ia merasa, dirinya memang tak mampu. Bisa juga ia jadi merasa tak nyaman dengan dirinya sendiri karena selalu diliputi perasaan, "Jika saya tampil, pasti saya akan dilecehkan."

"Terus Latih"

Lantaran itulah Frida percaya, anak yang memiliki kecenderungan pemalu dapat berubah. Apalagi dalam hidupnya, anak terus berproses mengembangkan dirinya. Yang penting, orang tua rajin memberikan stimulasi dan latihan padanya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. "Niscaya rasa malu itu akan berkurang, bahkan dapat dihilangkan," tegas Frida. Caranya? Beri anak pengalaman yang membuatnya tersadar, konsep dirinya itu keliru. "Hingga ia pun akan berkesimpulan, ternyata dengan kemampuan yang ada pun, orang lain menerima dirinya sepenuhnya." Juga bahwa dunia yang dicintainya tak membutuhkan banyak syarat. "Ini akan memberikan perubahan pada dirinya," ujar pengurus Badan Koordinasi Pembinaan Anak, Remaja dan Pemuda wilayah Jawa Tengah ini. Dengan kata lain, orang tua membantu anak mengkaji ulang pandangan tentang dirinya sendiri. Lama-kelamaan si anak akan berpikir, menjadi pemalu adalah hal keliru. "Itu perlunya pelatihan-pelatihan. Menurut saya, pemalu lebih karena sikap, bukan personality atau kepribadian."

Karena itulah, orang tua harus melatih anak agar tak jadi pemalu. Ini sekaligus penting untuk menanamkan pada anak bahwa untuk hidup di masyarakat, diperlukan "keberanian". Soalnya, sambung Frida, "Lingkungan selalu membutuhkan penyesuaian dari kita. Orang-orang yang tak mampu bergaul dan bersosialisasi dianggap maladjusted." Lebih dari itu, lingkungan juga akan mencapnya memiliki perkembangan kepribadian yang kurang baik atau bahkan dicap berkepribadian negatif. Akibatnya, "Ia tak lagi bisa optimal mengembangkan dirinya secara baik dengan cap yang sudah terlanjur melekat tadi."

Sejak Janin

Tentu saja kita tak ingin si kecil begitu, bukan? Nah, segeralah bertindak! Bahkan sebetulnya, sejak dari kandungan pun, si kecil sudah bisa "dilatih" agar kelak tak jadi pemalu. Caranya dengan mengembangkan secure attachment antara ibu dan janin. Misalnya, komunikasi yang terus-menerus antara si ibu dengan janinnya. Para ahli percaya, kelekatan yang aman dengan orang tua, pada gilirannya akan mengembangkan rasa percaya diri, otonomi, dan anak kelak akan mudah sekali mencari jati dirinya. "Bila sejak berupa janin, anak dikondisikan dengan sikap yang welcome, ia menjadi percaya diri. Sehingga waktu lahir, perasaan bahwa ia diterima, sudah ada!"

Sumber : Tabloid Nakita 
Last Updated ( Monday, 26 April 2010 09:59 )
 
Orang Tua dan Pilihan Pendidikan Bagi Anak PDF Print E-mail
Written by sang profesor   
Tuesday, 09 December 2008 02:18

Orang Tua dan Pilihan Pendidikan Bagi Anak


Oleh : USEP SAEFUROHMAN, S.Pd.

(Class Master SDIT Bina Muda)

Suara dan pilihan masyarakat akhir-akhir ini bak gula yang dirindukan semut, menjadi rebutan bagi pihak-pihak yang mempunyai kepentingan tertentu. Tidak hanya diperebutkan oleh capres dan cawapres dengan menjual visi, misi, dan platform mereka, tapi juga oleh sekolah-sekolah yang menawarkan visi, misi, keistimewaan, dan segala kelebihan yang dikemas sebagus mungkin agar masyarakat jatuh hati dan menentukan pilihan sesuai dengan keinginan mereka. Bedanya, menjelang pilpres, masyarakat akan menitipkan suara sebagai amanat kesejahteraan bangsa, sedangkan menjelang penerimaan siswa baru, masyarakat akan menitipkan anak-anaknya ke sekolah sebagai amanat masa depan anak bangsa. Â

Salah satu faktor penentu masa depan anak bangsa adalah keluarga. Lembaga pendidikan pertama saat manusia terlahir ke dunia adalah keluarga. Sebuah keluarga memiliki investasi afeksi yang tidak dapat tergantikan oleh peranan lembaga lain di luar keluarga, seperti sekolah, lembaga agama dan masyarakat. Meskipun memiliki posisi sangat strategis sebagai tempat investasi afeksi pertama sang anak dalam masa-masa awal pertumbuhannya, posisi istimewa orang tua ini juga bisa menjadi titik lemah bagi pembentukan karakter anak. Sebab, tidak ada korelasi antara kemampuan untuk melahirkan anak dengan kemampuan diri orang tua untuk menjadi pendidik. Untuk menjadi orang tua hanya prasyarat biologis yang diperlukan, sedangkan untuk menjadi pendidik dibutuhkan pengalaman, keahlian, dan pemahaman tentang pedagogi. Jadi, visi pendidikan dan keyakinan filosofis, dan pengalaman pribadi orang tua tentang pendidikan anak inilah yang menentukan berhasil tidaknya orang tua menjadi pendidik bagi anak-anaknya.

Mengingat tidak adanya korelasi antara kapasitas biologis untuk menjadi orang tua dan kapasitas mereka untuk menjadi pendidik, tidak jarang bahwa anak justru memperoleh pendidikan yang kurang baik di dalam keluarga sehingga proses penanaman nilai tidak terjadi di dalam keluarga. Selain itu, ketika anak semakin menginjak dewasa dan butuh untuk mengembangkan pengetahuannya, orang tua memiliki keterbatasan dalam hal kompetensi, metode dan sarana dalam membantu pertumbuhan anaknya sendiri. Untuk inillah hadir lembaga-lembaga pendidikan yang membantu anak itu berkembang dengan lebih baik sehingga seluruh potensi yang ada dalam dirinya dapat tumbuh.

Pemahaman orang tua tentang jenis pendidikan bagi anaknya sangatlah bervariasi mengingat jumlah sekolah yang semakin banyak dengan segala macam karakter dan kekhasan yang menjadi kelebihannya. Tapi paling tidak ada tiga pendapat tentang cara-cara orang tua memberikan pendidikan bagi anak mereka jika dilihat dari cara mereka menentukan pilihan jenis sekolah. Pertama, ada orang tua yang menginginkan anaknya dididik dalam konteks multicultural. Mengingat bahwa masyarakat menjadi semakin plural dalam segala hal baik dari sisi pandangan hidup, agama, sosial, budaya, ideologi politik, dan keterampilan. Orang tua merasa lebih aman dan nyaman mempercayakan pendidikan anak mereka dalam sekolah yang dikelola oleh Negara. Lewat sekolah umum ini anak akan mengalami suasana pembelajaran yang multicultural. Anak berjumpa dengan pola perilaku, kebiasaan, dan carta pikir yang relative berbeda dengan yang mereka alami di rumah. oleh karena itu, orang tua memilih sekolah umum yang dikelola oleh Negara. Metode pendidikan ini biasanya kilasikal dan umum.

Kedua, ada orang tua yang menginginkan anaknya mengalami sebuah proses pendidikan yang berkesinambungan dengan pendidikan yang telah terjadi di rumah dengan mempercayakan pada lembaga pendidikan agama tertentu, yang memberikan pendidikan khusus, yang para muridnya hampir dikatakan memiliki habitus, kebiasaan, cara-cara dan pola berpikir sama dengan ajaran iman yang dimiliki oleh anak di dalam keluarga. Model pendidikan yang dikelola oleh lembaga agama tertentu membuat orang tua merasa aman dan nyaman, terutama tentang pertumbuhan pendidikan iman anak-anak mereka. Biasanya model pendidikan dari lembaga pendidikan ini adalah tradisional-konservatif.

Ketiga, ada orang tua yang tidak puas dengan pelayanan pendidikan yang diberikan oleh Negara dalam bentuk sekolah umum maupun pelayanan pendidikan oleh lembaga keagamaan dalam bentuk sekolah swasta keagamaan, sebab kedua lembaga ini memiliki pendekatan tradisional-konservatif yang kurang relevan dengan tuntutan zaman. Anak buth kecakapan dan keterampilan khusus yang tidak ditemukan di dalam kedua lembaga pendidikan tersebut. Oleh karena itu, ada orang tua yang menyerahkan anak-anak mereka untuk dididik dalam sebuah lembaga alternatif yang memberikan pendekatan kreatif, progresif dalam karya pendidikan mereka.

Apapun pilihannya, orang tua tetap memiliki kepentingan bagi kemajuan pendidikan masa depan anak-anak mereka. Dalam hal ini, tanggung jawab orang tua tidak hilang, melainkan diperluas dengan melibatkan lembaga lain karena keterbatasan yang mereka miliki. Dengan begitu, keluarga dan sekolah sama-sama bertanggung jawab terhadap tumbuh kembang mereka sebagai genarasi penerus bangsa.

Last Updated ( Monday, 26 April 2010 09:54 )
 
Thomas Alva Edison PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 06 August 2008 16:47
11 Februari 1847 - 18 Oktober 1931

Karena dianggap bodoh pada masa kecilnya, maka sejak usia 7 tahun Edison dikeluarkan dari sekolah oleh orang tuanya untuk belajar sendiri di rumah, dan pada usia 12 ia mulai berjualan koran dan buah-buahan di kereta api, sambil terus belajar secara mandiri melalui bahan bacaan buku dan percobaan-percobaan kecil di rumahnya.

Semenjak ia menjadi operator telegraf konvensional, pada tahun pertama ia bekerja, Edison sempat berkali-kali dipecat dari pekerjaannya karena kurangnya fokus pada tugas operasionalnya, karena ia sibuk membaca dan bereksperimen dengan peralatan yang menjadi tugasnya tersebut, dan hingga pada tahun 1870 Edison berhasil menemukan telegraf dengan fungsi yang terbilang sempurna pada masanya itu. Pada tahun 1874, ia berhasil mendirikan bengkel science untuk percobaan dan penelitiannya sendiri dan tahun 1877 ia menemukan gramofon.

Pada tahun 1879, setelah belasan ribu eksperimen yang 'gagal', ia menemukan sebuah cara yang berhasil untuk menyalakan lampu pijar yang berfungsi dengan sempurna, pesan yang selalu mengiringi keberhasilan ini adalah bahwa ia tidak melakukan ribuan eksperimen yang gagal, melainkan melakukan ribuan eksperimen yang mengantarkannya pada cukup 1 sukses besar, yang akan merubah dirinya dan
kehidupan orang banyak sepanjang masa...

Edison memegang ribuan hak paten atas berbagai penemuan yang merubah dunia hingga hari ini, semuanya didasarkan pada ketekunan, kesabaran, keteguhan dan komitmentnya atas apa yang dipercayanya akan dapat diraih.

Berikut adalah Quotes Thomas Alva Edison yang terkenal:
"Jenius adalah 1 persen inspirasi dan 99% keringat"


http://www.motivasi-sukses.com

Berikut adalah pembahasan lanjutan dari quote yang pernah disampaikan
sebelumnya mengenai kejeniusan dan kesuksesan, yang biasanya terdiri dari
cukup 1% inspirasi dan 99% usaha/keringat.

Mengapa dibutuhkan cukup 1% inspirasi? apakah tidak akan lebih baik
inspirasi dengan dosis lebih tinggi lagi? Baiklah, terlepas dari hal ini, mari
kita lihat fungsi dari Octane Booster yang biasanya ditambahkan sebagai
zat additive atau tambahan pada bahan bakar kendaraan seperti bensin,
untuk dapat meningkatkan kinerja/performance mesin yang berujung pada
peningkatan akselerasi kecepatan dan respon mesin pada kendaraan.

Dapat kita lihat bahwa penambahan persentase kecil octane booster pada
bahan bakar, sanggup melipatgandakan, atau minimal meningkatkan secara
signifikan berbagai proses pada part-part mesin yang biasanya bekerja
dengan kinerja 'normal' dengan bahan bakar standar. Dari hal ini dapat
kita umpamakan bahwa inspirasi pun bekerja bagaikan octane booster
pada diri seseorang, cukup sedikit inspirasi yang relevan dan mengena pada
pemikiran untuk mampu menggerakkan seseorang sehingga dapat bertindak
dengan lebih cepat, lebih yakin, lebih pasti, lebih bersemangat, lebih positif,
lebih terfokus, seakan tidak ada hal yang dapat menghentikan mereka. Inilah
fungsi sesungguhnya dari inspirasi. Banyak kisah dan hal dari orang lain
yang dapat dijadikan inspirasi, dan membantu orang lainnya untuk dapat
mencapai cita-citanya.

Pada sebuah tayangan di tv, pernah ditampilkan seorang pebowling wanita
yang hampir selalu mendapatkan 'strike' pada lemparannya, dan ternyata
ia adalah seorang tuna netra! Saat ditanya apa yang memberikan kebahagiaan
dalam pada hidupnya, ia menjawab: kebahagiaan terbesar dalam hidupnya
adalah bila ada orang lainnya yang terinspirasi oleh kondisi dirinya sehingga
dapat mencapai cita-citanya dengan langkah lebih pasti dan mantap. Dan inilah
salah satu fungsi inspirasi bagi manusia.

Apa yang menjadi inspirasi Anda? Hal apa, pengalaman apa, atau siapa yang
menjadi inspirasi Anda saat ini? Temukanlah 1% hal (atau bahkan lebih dari 1% )
yang menjadi octane booster bagi kendaraan Anda menuju cita-cita dan impian!
Last Updated ( Friday, 05 December 2008 15:39 )
 

Galleri Kegiatan

wb-1.JPG

Pesan

Hubungi Kami
Info Singkat
Terimakasih, kami sampaikan kepada :
PARA ORANG TUA SDIT BINA MUDA,
Atas partisipasinya dan dukungannya selama ini
"Mohon maaf atas segala pelayanan yang kami berikan, dan terimakasih juga atas saran dan kritiknya, semoga kami bisa tetap memberikan yang terbaik...
PANITIA PENERIMAAN SISWA BARU
Menerima Siswa Baru dan Pindahan untuk tahun ajaran 2010-2011:
PENDAFTARAN DIMULAI BULAN JANUARI 2010
Info : hub. Bu Dewi 022-709.541.76
Oheem 022-70473766,0817420866
PENTING !!

bottom
top

Latest News

Popular


bottom

.:: SD Islam Bina Muda ::.
@2008-1429